Sabtu, 25 April 2015

Beliau Yang Ku Rindukan

Beliau yang akan aku ceritakan, hanyalah manusia biasa. Tempat salah  dan lupa. Namun beliau mempunyai kekuatan yang sangat besar di hidupku. Aku bukanlah apa-apa tanpa beliau. Selain kedua orang tuaku, orang tua ini adalah mama keduaku, bahkan beliau adalah sahabat sejatiku. Beliau adalah nenekku. Nenek yang sangat ku sayang. Usianya sudah senja, 90 tahun dan sudah seminggu lebih berpulang ke Rahmatullah.
Masih sangat teringat semua mengenai beliau. Terlebih dahulu aku akan memulai ceritaku mengenai kedekataknku dengan beliau. Nenekku atau biasa aku sebut Mbah Ibu adalah nenek dari Mama, kami tinggal bersama bahkan semenjak aku belum lahir hehe. Dari aku kecil, ketika Mama belum pulang kantor, Papa sibuk bekerja, dan Mas belum pulang sekolah, aku menghabiskan hari-hariku dengan Mbah Ibu. Kerap kali aku nongkrong di kamarnya sembari membaca majalah, bermain gadget, atau sekedar bercengkrama. Karena saking seringnya bercerita, hubungan kamipun menjadi sangat dekat. Akupun tak canggung menceritakan segala kisahku dengan beliau, bahkan lebih dari yang aku ceritakan pada Mamaku. Beliau adalah orang yang membelaku ketika Papa dan Mama memarahiku. Beliau adalah satu-satunya orang yang mensupportku dalam kondisi apapun. Beliau selalu menerimaku dalam baik dan burukku. Dalam jatuh bangunku, dalam perjalanan masa  kecil hingga masa menjelang dewasaku.
Aku masih teringat ketika TK, aku memesan kepada Mbah Ibu untuk mengantarkan Koko Crunch yang sudah diseduh ke sekolah. Kala itu memang TK dekat sekali dengan sekolah dan yah namanya juga anak-anak mau pamer sama teman-teman kalau makan Koko Crunch, haha norak abis.
Ketika SD aku tak terlalu mengingat banyak, yang pasti beliau selalu ada ketika aku pulang sekolah, dan kami menghabiskan hari-hari kami di kamarnya. Oh ya, sempat beliau membuatkanku dress baju muslim karena Mbah Ibu dulunya adalah penjahit. Dress itu aku pakai ketika aku kelas 6. Aku masih teringat hobinya mendengarkan radio, setiap malam minggu yaitu siaran wayang dan setiap pagi hari siaran tembang kenangan dan siang hari adalah campursari. Ketika aku hendak tidur, beliau menceritakan beberapa kisah legenda seperti kancil mencuri ketimun, bawang merah dan bawang putih, namun cerita khas dari beliau adalah yang berjudul Klenthing Kuning. A similiar story to Bawang Merah dan Bawang Putih actually.
Waktu berlalu ketika aku beranjak remaja yaitu masa SMP. Pada masa itu, beliau sering titip untuk dibelikan buku TTS dan aku harus mengingat-ingat edisi mana yang pernah aku beli dan mana yang belum. Beliau juga kerap menanyakan beberapa pertanyaan bahasa Inggris hingga beliau ingat sekali beberapa kosakata seperti red, blue, black, white, dll.
Ketika aku beranjak SMA,  mulai ada beberapa laki-laki mendekatiku. Nah, Mbah Ibu inilah yang mengospek calon pacar dan pacarku satu per satu. Beberapa laki-laki dikategorikan kurang layak untukku dan Randy adalah salah satu dan satu-satunya yang dikagumi oleh Mbah Ibu. Dialah yang lolos seleksi. Aku sangat bahagia sekali ketika mengetahui hal tersebut. Mbah dan Randy sangat dekat dan bahkan Randy pun memberikan perhatian untuk Mbah. 
Selama beberapa tahun berturut-turut kalau tidak salah, 2010 dan 2011 Mbah Ibu opname tepat pada bulan Januari. Kondisi beliau memang semakinlama menurun, dikarenakan faktor usia salah satunya. Hingga pada Januari 2012 Mbah Ibu terserang stroke. Semenjak saat ini hari-hariku dan keluarga berubah.
Kebiasaan kami semakin berubah dengan rutinitas yang serba merawat Mbah Ibu pastinya, maaf tidak bisa aku ceritakan dengan sangat detail. Pada waktu itu, aku mungkin tidak bisa lagi bercerita banyak pada Mbah walau aku masih kerap bercerita juga, namun kemampuan beliau untuk berbicara semakin terbatas sehingga tidak bisa banyak berbicara dan merespon curhatanku.
Namun beliau waktu itu masih ada, aku bisa memeluknya, dekat dengannya,menciumnya, bercanda, bahkan selfie dengan Beliau.
Hingga kini semua benar-benar berubah. Aku hanya bisa mendoakannya dan membacakan surat Yasin untuk beliau. Tak lupa ziarah ke makamnya ketika aku sempat. Sungguh sangat berbeda dan masih teringat segala hal yang berhubungan dengan Beliau.
Aku baru sadar, aku tidak menangis sesungukan, aku benar-benar merasa kehilangan namun aku coba untuk mengikhlaskan. Walau beberapa hari setelahnya aku jatuh sakit, dan aku merasa disitulah titik terlemahku ketika aku mengalami kesedihan, luka tersebut tak akan hilang, kehilangan tersebut tidak bisa kembali, namun kenangan bersama Beliau, segala tentang Beliau, sifat baik hati Beliau, dan pesan Beliau kepadaku akan selalu aku ingat dan aku lakukan.
See you in another life Mbah Ibu

Love You So Much

Tidak ada komentar:

Posting Komentar