Beliau
yang akan aku ceritakan, hanyalah manusia biasa. Tempat salah dan lupa. Namun beliau mempunyai kekuatan
yang sangat besar di hidupku. Aku bukanlah apa-apa tanpa beliau. Selain kedua
orang tuaku, orang tua ini adalah mama keduaku, bahkan beliau adalah sahabat
sejatiku. Beliau adalah nenekku. Nenek yang sangat ku sayang. Usianya sudah
senja, 90 tahun dan sudah seminggu lebih berpulang ke Rahmatullah.
Masih
sangat teringat semua mengenai beliau. Terlebih dahulu aku akan memulai
ceritaku mengenai kedekataknku dengan beliau. Nenekku atau biasa aku sebut Mbah
Ibu adalah nenek dari Mama, kami tinggal bersama bahkan semenjak aku belum
lahir hehe. Dari aku kecil, ketika Mama belum pulang kantor, Papa sibuk
bekerja, dan Mas belum pulang sekolah, aku menghabiskan hari-hariku dengan Mbah
Ibu. Kerap kali aku nongkrong di kamarnya sembari membaca majalah, bermain
gadget, atau sekedar bercengkrama. Karena saking seringnya bercerita, hubungan
kamipun menjadi sangat dekat. Akupun tak canggung menceritakan segala kisahku
dengan beliau, bahkan lebih dari yang aku ceritakan pada Mamaku. Beliau adalah
orang yang membelaku ketika Papa dan Mama memarahiku. Beliau adalah
satu-satunya orang yang mensupportku dalam kondisi apapun. Beliau selalu
menerimaku dalam baik dan burukku. Dalam jatuh bangunku, dalam perjalanan
masa kecil hingga masa menjelang
dewasaku.
Aku
masih teringat ketika TK, aku memesan kepada Mbah Ibu untuk mengantarkan Koko
Crunch yang sudah diseduh ke sekolah. Kala itu memang TK dekat sekali dengan
sekolah dan yah namanya juga anak-anak mau pamer sama teman-teman kalau makan
Koko Crunch, haha norak abis.
Ketika
SD aku tak terlalu mengingat banyak, yang pasti beliau selalu ada ketika aku
pulang sekolah, dan kami menghabiskan hari-hari kami di kamarnya. Oh ya, sempat
beliau membuatkanku dress baju muslim karena Mbah Ibu dulunya adalah penjahit. Dress
itu aku pakai ketika aku kelas 6. Aku masih teringat hobinya mendengarkan
radio, setiap malam minggu yaitu siaran wayang dan setiap pagi hari siaran
tembang kenangan dan siang hari adalah campursari. Ketika aku hendak tidur,
beliau menceritakan beberapa kisah legenda seperti kancil mencuri ketimun,
bawang merah dan bawang putih, namun cerita khas dari beliau adalah yang
berjudul Klenthing Kuning. A similiar story to Bawang Merah dan Bawang Putih
actually.
Waktu
berlalu ketika aku beranjak remaja yaitu masa SMP. Pada masa itu, beliau sering
titip untuk dibelikan buku TTS dan aku harus mengingat-ingat edisi mana yang
pernah aku beli dan mana yang belum. Beliau juga kerap menanyakan beberapa
pertanyaan bahasa Inggris hingga beliau ingat sekali beberapa kosakata seperti
red, blue, black, white, dll.
Ketika
aku beranjak SMA, mulai ada beberapa
laki-laki mendekatiku. Nah, Mbah Ibu inilah yang mengospek calon pacar dan
pacarku satu per satu. Beberapa laki-laki dikategorikan kurang layak untukku
dan Randy adalah salah satu dan satu-satunya yang dikagumi oleh Mbah Ibu. Dialah
yang lolos seleksi. Aku sangat bahagia sekali ketika mengetahui hal tersebut. Mbah
dan Randy sangat dekat dan bahkan Randy pun memberikan perhatian untuk
Mbah.
Selama
beberapa tahun berturut-turut kalau tidak salah, 2010 dan 2011 Mbah Ibu opname
tepat pada bulan Januari. Kondisi beliau memang semakinlama menurun,
dikarenakan faktor usia salah satunya. Hingga pada Januari 2012 Mbah Ibu
terserang stroke. Semenjak saat ini hari-hariku dan keluarga berubah.
Kebiasaan
kami semakin berubah dengan rutinitas yang serba merawat Mbah Ibu pastinya,
maaf tidak bisa aku ceritakan dengan sangat detail. Pada waktu itu, aku mungkin
tidak bisa lagi bercerita banyak pada Mbah walau aku masih kerap bercerita
juga, namun kemampuan beliau untuk berbicara semakin terbatas sehingga tidak
bisa banyak berbicara dan merespon curhatanku.
Namun
beliau waktu itu masih ada, aku bisa memeluknya, dekat dengannya,menciumnya,
bercanda, bahkan selfie dengan Beliau.
Hingga
kini semua benar-benar berubah. Aku hanya bisa mendoakannya dan membacakan
surat Yasin untuk beliau. Tak lupa ziarah ke makamnya ketika aku sempat. Sungguh
sangat berbeda dan masih teringat segala hal yang berhubungan dengan Beliau.
Aku
baru sadar, aku tidak menangis sesungukan, aku benar-benar merasa kehilangan
namun aku coba untuk mengikhlaskan. Walau beberapa hari setelahnya aku jatuh
sakit, dan aku merasa disitulah titik terlemahku ketika aku mengalami
kesedihan, luka tersebut tak akan hilang, kehilangan tersebut tidak bisa
kembali, namun kenangan bersama Beliau, segala tentang Beliau, sifat baik hati
Beliau, dan pesan Beliau kepadaku akan selalu aku ingat dan aku lakukan.
See
you in another life Mbah Ibu
Love
You So Much ♡
Tidak ada komentar:
Posting Komentar